Ikuti Cara Rasulullah jika anda Ingin Berkah dalam Berniaga
Ketik artikel disini!
Pada era globalisasi sekarang berniaga adalah salah satu
cara bertahan hidup. Banyak cara untuk bertahan hidup salah satunya berniaga,
tentunya dengan cara Rosululloh ajarkan salah salah satu prinsif hidup padukan
Alam adalah hidup jujur. Yang menjadi catatat saya adalah tatkala kita akan
memulai berniaga utamakan prinsif yang diajarakan Jungjunga kita, sudah menjadi
kenyataan bahwa berbiaga pada dunia digital menjadi tolak ukur pembeli mau
mendapatkan produk kita, maka dari itu sebelum berniaga alangkah baiknya kita
memahami bagaimana cara rosul berdangan, selahkan simak artilek nya.
“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada
dalam perdagangan”
Rasul kita, Nabi Muhammad SAW
juga seorang pedagang sejati. Disebutkan dalam sejarah bahwa beliau
memulai bisinisnya sejak berusia 12 tahun. Beliau dikenal sebagai pedagang yang
jujur, ramah bahkan sukses. Kesuksesan nabi Muhammad SAW dalam berwirausaha
tidak hanya sekedar dalam hal materi saja. Tapi juga keberkahan rezeki yang
diperoleh serta memupuk tali persaudaraan antar muslim (dalam artian
memperbanyak patner kerja atau kenalan-kenalan baru).
Baca juga:
·
Cara cepat kaya menurut islam
·
Etika jual beli dalam ekonomi
islam
·
Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
Nah, berikut ini beberapa cara
berdagang Rasulullah SAW yang bisa kita contoh untuk mengembangkan bisnis agar
lebih sukses dan diridhoi Allah Ta’ala.
1. Diniatkan karena Allah SWT (Lillahi
Ta’ala)
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung
pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia
niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan
mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya
karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya,
maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan
Muslim).
Dasar utama Rasulullah SAW
berdagang yakni atas niat karena Allah, lillahi Ta’ala. Bukan untuk memupuk
harta, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya ataupun untuk memikat wanita.
Tidak sama sekali! Awal Beliau memulai berdagang, saat itu usianya masih 12
tahun. Rasul berdagang dengan mengikuti pamannya, Abdul Munthalib hingga ke
negeri Syam (Suriah). Ketika usianya menginjak 15-17 tahun, Rasul telah
berdagang secara mandiri. Beliau berhasil memperluas bisnisnya hingga ke 17
negara. Sampai-sampai Beliau disebut sebagai khalifah (pemimpin) dagang dan
hingga pada akhirnya kecakapannya dalam berdagang mengundang perhatian janda
Kaya raya berna Siti Khadijah. Beliau pun menikahi Khadijah dan usaha
dagangannya menjadi semakin sukses. Ya, itulah buah dari sebuah niat yang
tulus. Segala sesuatu yang diniatkan untuk mencari ridho Allah, pasti akan
memudahkannya. Maka itu, awali usaha dengan niat lillahi Ta’ala.
Baca juga:
·
Transaksi Ekonomi dalam Islam
2. Bersikap jujur
Dalam menjalani aktivitas
kesehariannya, termasuk berdagang, Rasulullah SAW dikenal akan kejujurannya.
Beliau tidak pernah mengurangi takaran timbangan, selalu mengatakan apa adanya
tentang kondisi barang, baik itu kelebihannya ataupun kekurangan barang
tersebut. Bahkan tak jarang Rasul melebihkan timbangan untuk menyenangkan
konsumennya. Atas kejujurannya itu, beliau pun dianugerahi julukan Al-Amin
(yakni seseorang yang dapat dipercaya).
Pentingnya bersikap jujur dalam
berdagang juga disinggung oleh Allah SWT dalam beberapa ayat di Al-Quran,
diantaranya yakni:
“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang
lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu
merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (QS. AsySyu’araa:
181-183)
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil
dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahmaan:9)
“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan
dengan adil”. (QS. Al An’aam: 152)
“Dan sempurnakanlah takaran
apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. ItuIah yang lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al lsraa: 35)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya para pedagang (pengusaha)
akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang
bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi)
Baca juga:
3. Menjual barang berkualitas bagus
Prinsip berikutnya yang dianut
oleh Rasulullah SAW dalam berdagang yakni menjaga kualitas barang jualannya.
Beliau tidak pernah menjual barang-barang cacat. Sebab itu akan merugikan
pembeli dan bisa menjadi dosa bagi si penjual.
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim
yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada
cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (HR. Ibn Majah)
Baca juga:
4. Mengambil keuntungan sewajarnya
Seringkali kita jumpai pedangan
atau pebisnis yang menjual barangnya dengan harga jauh lebih mahal dari harga
aslinya. Mereka berusaha mengambil laba setinggi mungkin tanpa memikirkan
kondisi konsumen. Taktik seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
SAW. Selain menyalahi agama, menjual barang dengan harag terlalu mahal juga
membuat dagangan kita kurang laku.
Sebaliknya, Nabi SAW selalu
mengambil keuntungan sewajarnya. Bahkan ditanyai oleh pembeli tentang modalnya,
beliau akan memberitahukan sejujur-jujurnya. Intinya, tujuan Nabi berdagang
bukan semata-mata mengejar keuntungan duniawi saja. Tapi juga mencari
keberkahan dari Allah SWT.
Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan
akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang
menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan
dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat .” (QS.
Asy-Syuraa: 20)
5. Tidak Memberikan Janji (sumpah) berlebihan
Ketika berdagang sebaiknya jangan
memberikan janji atau sumpah-sumpah berlebihan. Semisal, “barang ini tidak akan
rusak hingga setahun”. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, semua hal dapat
berubah atas izin Allah SWT. Maka itu, janganlah mengklaim barang ini super
bagus, super awet dan sejenisnya. Sumpah itu tidak baik. Apalagi sampai
bersumpah palsu, jelas perkataan tersebut termasuk dusta dan dibenci oleh Allah
Ta’ala.
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Syibel bahwa
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah,
bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun
mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya
palsu”. (HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Sumpah itu melariskan barang dagangan, akan tetapi menghapus
keberkahan”
Baca juga:
6. Saling menguntungkan kedua belah pihak
Cara berdagang rasulullah
selanjutnya dengan mengutamakan prinsip saling menguntungkan serta suka sama
suka antar pembeli dan penjual. Tidak ada yang ditutupi-tutupi dari barang
dagangannya. Dan harus mencapai kesepakatan bersama, baik dalam harga, jenis
barang, dan cara memberikan barang tersebut kepada pembeli.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah dua orang yang berjual-beli
berpisah ketika mengadakan perniagaan kecuali atas dasar suka-sama suka. (HR.
Ahmad).
Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah
perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka. (HR. Ibnu Majah)
7. Menjual barang miliknya sendiri
Kalian pasti sering mendengar
sistem penjualan barang dengan dropshipping, bukan? Dimana kita menjual suatu
produk kepada buyer (konsumen) tanpa membelinya produk tersebut terlebih
dahulu. Cukup memasang foto-foto produk itu di media sosial. Nantinya jika ada
buyer yang memesan, kita langsung menghubungi si grosir (agen resminya). Lalu
grosir akan mengirim barang tersebut secara langsung ke alamat buyer dengan
atas nama toko kita.
Jual beli dengan metode
dropshipping tentunya cukup berisiko. Sebab kita (selaku penjual) tidak
mengetahui kondisi barangnya secara langsung. Hanya lewat foto. Bagaimana jika
nantinya buter menerima barang yang cacat? Atau mungkin proses pengirimannya
lama? Hal ini tentu mengecewakan si pembeli. Maka itu, Rasulullah SAW
menyarankan agar kita tidak menjual barang yang bukan milik kita. Sebab itu
bisa merugikan pihak lain.
Hakim bin Hizam pernah bertanya pada Rasulullah
shallallahu‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku seraya
meminta kepadaku agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki,
dengan cara terlebih dahulu aku membelinya untuknya dari pasar?” Rasulullah
menjawab : “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu .” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasai)
Baca juga:
·
Hal Hal Yang Menghapus Amal
Ibadah
·
hubungan ilmu kalam dengan
filsafat
8. Tidak melakukan penipuan
Dalam berdagang Rasulullah SAW
juga tidak pernah melakukan penipuan. Perlu diketahui bahwa tindakan menipu
pembeli, sekecil apapun dan dalam bentuk apa saja itu tentu dilarang oleh
agama.
Diriwayatkan dari Abu Huraira ra: Rasulullah pernah melewati setumpuk
makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau
menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik
makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai
Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian
makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia
bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Dalam hadist lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Barangsiapa
yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan
pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu
Hibban)
9. Tidak menimbun barang
Menimbun barang merupakan
keadaan dimana seseorang membeli barang dengan stok sangat banyak dari pasar,
lalu menyimpannya dalam kurun waktu lama dan menjual barang tersebut dengan
harga sangat mahal. Ketahuilah bahwa menimbun barang adalah perbuatan dzalim.
·
Pertama aktivitas ini menyembabkan
terganggunya mekanisme jual-beli di pasar. Stok barang di pasar akan habis dan
itu merugikan pedagang lain.
·
Kemudian, dengan sengaja menyimpan barang
dan mengelurkannya sangat permintaan konsumen melonjak. Sehingga ia bisa
menaikkan harganya. Ini tentu tidak diperbolehkan dalam islam. Sebab sama saja
dengan mencari keuntungan untuk diri sendiri
·
Dan terakhir, barang yang telah ditimbun
dalam waktu lama itu biasanya kualitasnya menurun. Entah itu rusak, cacat atau
habis masa kadaluarsanya.
Diriwayatkan dari Ma’mar bin Abdullah bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan
melainkan dia adalah pendosa.” (H.r.
Muslim)
Baca juga:
·
Membangun rumah menurut islam
10. Bersikap ramah dengan pembeli
Bersikap ramah, santun dan
selalu tersenyum kepada pembeli juga merupakan cara berdagang Rasulullah SAW.
Apabila kita bisa bersikap baik dengan pembeli, maka pembeli pasti juga senang.
Sebaliknya jika kita menunjukkan wajah judes dan cemberut tentu pembeli akan
malas dan kabur, tidak akan membeli di tempat kita lagi.
Baca juga:
·
Cara
mengatasi despresi menurut islam
·
Cara Agar Hati Tenang Dalam
Islam
·
Penyebab Hati Gelisah Menurut
Islam
11. Tidak menjual barang haram
Menjual barang-barang haram
jelas tidak diperbolehkan dalam islam, dan Nabi juga tidak pernah melakukan hal
tersebut. Maka itu, jauhilah berdagang barang-barang yang tidak jelas
kehalalannya, semisal minuman keras, rokok, patung dan sebagainya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perdagangan khomr telah diharamkan”
(HR. Bukhari)
”Sesungguhnya bila Allah telah
mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula
hasil penjualannya.” (HR Ahmad)
Baca juga: Contoh jual beli terlarang – Jual beli terlarang dalam islam
12. Tidak menjelek-jelekan dagangan orang lain
Jika kita hendak berdagang,
sebaiknya lakukan secara benar sesuai syariat agama. Tidak perlu kita
menjelek-jelekan dagangan orang lain dengan tujuan agar semua konsumen lari
menuju kita. Perbuatan itu dosa!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda , “Janganlah seseorang diantara kalian
menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain” (HR. Muttafaq Alaih)
13. Memberikan upah kepada karyawan tepat
waktu
Hal penting lain yang perlu
diketahui , jika Anda memiliki seorang karyawan maka berikan upah kepada
karyawan tersebut dengan tepat waktu. Jangan menunda-nundanya, sebab ia juga
telah memeras keringatnya demi menjalankan usaha Anda agar lancar. Jadi berikan
hak-nya sebagaimana perjanjian yang telah dikesepakati.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikan kepada seorang pekerja upahnya
sebelum keringatnya kering.” (HR.
Ibnu Majah)
Baca juga:
·
Tips Puasa Ramadhan Ala
Rasulullah
·
Hukum Menyakiti Hati Orang Lain
dalam Islam
14. Tidak mudah putus asa
Seorang pedangan tidak akan bisa sukses jika mudah berputus
asa. Perlu Anda ketahui bahwa segala seuatu membutuhkan proses. Begitupun
dengan berdagang atau berbisnis. Tidak mungkin hanya sebulan, dua bulan, atau
tiga bulan Anda berhasil meraih untung berlipat ganda dan mendadak jadi
kaya. Its
impossible! Kecuali Allah berkehendak.
Umumnya, akan datang masa dimana
Anda merasakan “terjatuh” dan jungkir balik. Dan disaat itu terjadi, satu hal
yang dibutuhkan yakni semangat pantang menyerah sebagaimana yang diajarkan oleh
Rasulullah SAW.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
kafir.”(QS. Yusuf: 87)
Baca juga:
·
Cara menghilangkan kesedihan
menurut islam
·
Cara menghilangkan stress dalam
islam
·
Cara agar hati tenang dalam
islam
·
Cara mengatasi depresi menurut
islam
15. Tidak melupakan ibadah
Kunci utama keberhasilan Rasul
SAW dalam berdagang yakni tidak melupakan ibadah. Allah Ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila
diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada
mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS.Al Jumu’ah :9-10)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa
yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS.Al Munafiqun:9)
Baca juga:
·
Cara agar Tidak Malas Shalat
·
Keutamaan Mendidik Anak
Perempuan
Demikianlah beberapa cara
berdagang Rasulullah SAW sebagaimana ajaran agama islam. Semoga dapat
bermanfaat dan bisa membantu kita untuk memulai bisnis yang berkah dan sukses.
Amin ya Rabbal Alamin.
Komentar
Posting Komentar